Close
Close

Sidak Pangkalan, Temukan Stok Mitan Tertahan dan Harga Meroket

Namrole
,SBS_Kemarahan warga Buru Selatan (Bursel) terkait kelangkaan minyak tanah (mitan) beberapa pekan lalu, akhirnya memicu aksi nyata. Tim gabungan dari Kepolisian Resor (Polres) Bursel dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bursel tak tinggal diam. Pada Rabu siang, 11 Maret 2026, mereka langsung menggelar Inspeksi Mendadak (sidak) ke sejumlah pangkalan mitan di wilayah tersebut. Keadaan di lapangan sungguh mengejutkan, membuka tabir di balik kesulitan masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok ini.

Sidak yang melibatkan unit reserse dari Polres Bursel, jajaran Dinas Perdagangan, serta personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) ini bukan sekadar formalitas. Tujuannya jelas, memastikan bahwa distribusi mitan berjalan sesuai koridor hukum dan tidak ada praktik curang yang merugikan rakyat. Namun, apa yang ditemukan di lapangan justru memperparah kekhawatiran masyarakat.

Petugas menemukan pemandangan yang ironis. Ada pangkalan mitan kedapatan masih menyimpan stok dalam jumlah yang terbilang cukup, namun ironisnya, stok tersebut belum juga disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Seolah-olah mitan itu sengaja ditimbun, padahal keluhan masyarakat terus mengalir.

Meisyor Wutlanit, Sekretaris Dinas Perdagangan Kabupaten Bursel membenarkan temuan tersebut. Ia menegaskan bahwa temuan ini langsung ditindaklanjuti oleh tim gabungan. Pemilik pangkalan diminta untuk segera merealisasikan penyaluran mitan kepada masyarakat sesuai dengan harga dan ketentuan yang berlaku.

"Salah satu pangkalan di Desa Labuang, Kilometer dua, kami menemukan masih tersisa tiga drum mitan di gudang penyimpanan, padahal pengisiannya sudah dari kemarin. Kami berinisiatif untuk segera dijual ke masyarakat, sehingga tidak ada lagi opini bahwa mitan langka padahal di dalam gudang masih melimpah," kata Wutlanit. 

Tidak hanya stok yang menumpuk tanpa disalurkan, tim pengawasan juga mendapati praktik penjualan yang jauh dari harga yang ditetapkan. Ada pangkalan kedapatan menjual mitan dengan harga yang melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang seharusnya dipatok Rp6.000 per liter. Kenaikan harga ini tentu saja memberatkan masyarakat.

Lebih jauh lagi, petugas juga menemukan adanya praktik penyaluran mitan yang melalui perantara pengecer. Kondisi ini menjadi 'biang kerok' kenaikan harga di tingkat konsumen, yang akhirnya membuat masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam, bahkan mencapai sekitar Rp9.000 per liter. Sebuah lonjakan harga yang tidak wajar dan memberatkan.

Meisyor Wutlanit kembali menegaskan bahwa alur distribusi mitan yang ideal seharusnya berjalan langsung dari agen ke pangkalan, lalu dijual kepada masyarakat tanpa adanya perantara yang hanya memperbesar margin keuntungan pribadi.

Sementara itu, Nur, seorang warga Namrole, mengungkapkan kekecewaannya. Ia mengaku pasokan mitan sebenarnya masuk secara rutin setiap pekan. Namun, ironisnya, ia dan warga Namrole lainnya tetap saja kesulitan untuk mendapatkan mitan di pangkalan. Ini menunjukkan ada masalah serius dalam rantai distribusinya.

Pemkab Bursel tak main-main dalam menyikapi pelanggaran ini. Mereka memberikan peringatan keras kepada seluruh pemilik pangkalan agar mematuhi aturan distribusi dan harga yang telah ditetapkan. Ancaman pencabutan izin usaha pun siap menanti jika pelanggaran serupa kembali terulang.

Menjelang momen penting seperti Idul Fitri, Pemkab Bursel berjanji akan memperketat pengawasan di seluruh jalur distribusi mitan. Mulai dari tingkat agen hingga pangkalan, semuanya akan diawasi dengan ketat. Tujuannya sederhana, memastikan ketersediaan mitan tetap terjaga dan pasokan benar-benar sampai ke tangan masyarakat yang berhak, bukan ke tangan spekulan. (Yul) 

Beri Komentar Anda

Mohon berkomentar dengan attitude yang baik...
Dilarang menggunakan Anonymous !!!

أحدث أقدم