Close
Close

Ingin Pulang, Warga Thailand Terkendala Biaya

Namrole, SBS
Kantor Imigrasi Kelas I TPI Ambon kecolongan dengan menyebut bahwa tidak ada orang asing di wilayah Buru Selatan (Bursel) saat melakukan Rakor Timpora beberapa waktu lalu di lantai dua kantor Bupati Bursel.


Pasalnya, temuan wartawan di lapangan ada warga Thailand yang diketahui bernama Mo sedang luntang - lantung di Namrole, Kabupaten Bursel. 


Pria 50 tahun ini saat ditemui wartawan di tribun alun-alun kota Namrole, Sabtu (15/10/2022) mengaku sementara istirahat karena baru selesai bekerja di Pasar Kai - Wait Namrole.


Menurut penuturannya, ia sudah berada di Bursel selama 5 bulan dan bertahan hidup hanya bekerja di pasar Kai Wait sebagai buru kasar.


"Disini sudah 5 bulan kalau di Ambon sudah 8 tahun," ucap Mo.


Dia menceritakan awalnya datang ke Bursel karena di ajak salah satu oknum TNI untuk menjadi pekerja kebun milik oknum TNI tersebut. 


Setelah dibiayai oleh oknum tentara tersebut, Mo kemudian dibawa ke Namrole, namun sayangnya kebun milik oknum TNI itu sudah dijual dan Mo tidak bisa bekerja.


"Kesini dengan pak tentara, diongkosi oleh beliau mau kerja kebun tapi kebunnya sudah dijual, jadi sekarang makan dan minum itu dapat dari orang pasar. Sehari - hari itu saya angkat sayur, angkat jagung dari mobil, juga kupas bawang," terangnya.


Untuk tempat tidur Warga Thailand ini terkadang bermalam di Kodim persiapan di Desa Elfule.


Merasa kesusahan, Mo sangat berkeinginan untuk pulang ke kampung halamannya di desa Sanggapen, Thailand. Hanya saja dia terkendala dengan anggaran yang menurut keterangannya berkisar 6 juta lebih.

"Mau pulang tapi tidak ada uang karena pernah ditanya tapi untuk naik kapal expo itu biayanya 6 juta. Sudah pernah ke imigrasi tapi kata mereka kalau satu sampai tiga orang itu tidak bisa harus sepuluh orang baru bisa dipulangkan. Untuk identitas seperti pasport semua ada di Bos di Ambon," terang Mo.


Atas dasar keinginannya untuk pulang, pria yang sudah fasih berbahasa Indonesia ini sangat berharap ada pihak-pihak tertentu yang bisa membantunya pulang ke kampung halamannya. Sebab semenjak dipecat oleh bos kapal ikan, hidupnya luntang - lantung di Maluku.


"Kita dua orang yang di pecat. Teman saya sudah kawin di Ambon sedangkan saya tidak punya siapa-siapa disni. Kalau ada yang bantu saya mau pulang ke desa Sanggapen," tandasnya. (SBS/01)

Beri Komentar Anda

Mohon berkomentar dengan attitude yang baik...
Dilarang menggunakan Anonymous !!!

Previous Post Next Post